Viral Dwi Sasetyaningtyas Sebut Paspor Indonesia Lemah, Ini Fakta Kekuatan Paspor RI
lebih lanjut, Riyan mengakui bahwa tantangan terbesarnya tetap terletak pada narasi.
“Dunia dinilai belum sepenuhnya menangkap semangat perubahan Indonesia, sementara sebagian negara masih terkungkung pada citra masa lalu. Di sinilah pentingnya penguatan narasi kebangsaan melalui kiprah warga negara Indonesia di luar negeri,” jelasnya.
Riyan juga mengakui bahwa paspor disebut sebagai cermin martabat bangsa danmenjadi bukti bagaimana dunia menilai suatu negara, bukan hanya dari kondisi domestik, tetapi juga dari perilaku warganya.
Karena itu, memperkuat paspor Indonesia bukan hanya persoalan kebijakan teknis, melainkan juga upaya membangun kepercayaan kolektif.
Terkait stigma “paspor lemah” yang kerap terdengar, Riyan juga menyuarakan harapannya.
“Paspor Indonesia dicap lemah? Mungkin. Akan tetapi, Indonesia terus berproses menghadapi persepsi global yang berkembang,” tulisnya.
Baginya, selama bangsa ini percaya pada kemampuannya sendiri, paspor berlambang Garuda akan terus merepresentasikan tekad kesetaraan dan kepercayaan, bukan sekadar dokumen perjalanan.
Dwi Sasetyaningtyas Dirujak Warganet Karena Sebut Paspor Indonesia Lemah 1
Kronologi Viral dan Reaksi Warganet
Kronologi polemik terkait ujaran viral Dwi Sasetyaningtyas ini bermula pada psotingan yang bersangkutan pada Februari 2026.
Saat itu,Tyas mengunggah momen saat dirinya menerima paket amplop berwarna cokelat dari Home Office Inggris.
Dalam vlog tersebut, ia tampak emosional saat membuka dokumen kewarganegaraan anak keduanya.
"Ini paket bukan sembarang paket, isinya adalah sebuah dokumen penting yang mengubah nasib dan masa depan anak-anakku," ujar Tyas dalam rekaman tersebut.
Kebahagiaannya memuncak setelah mengetahui sang anak resmi menjadi warga negara Inggris.
Namun, pernyataannya yang secara terbuka menyebut dirinya mengupayakan status warga negara asing bagi anak-anaknya memicu kritik luas.
"Cukup aku aja yang WNI, anak-anakku jangan. Kita usahakan anak-anak dengan paspor kuat WNA itu," tuturnya dalam video.
Istilah “paspor kuat” dan pernyataan “cukup aku saja yang WNI” kemudian menjadi pemantik kemarahan publik di media sosial, hingga memunculkan perdebatan luas mengenai citra dan kekuatan paspor Indonesia.
Polemik ini bahkan menuai tanggapan dari beberapa publik figur hingga pejabat publik termasuk Menkeu Purbaya dan Wamen Stella Christie.