Gosip

Viral Dwi Sasetyaningtyas Sebut Paspor Indonesia Lemah, Ini Fakta Kekuatan Paspor RI

24 Februari 2026 | 07:10 WIB
Viral Dwi Sasetyaningtyas Sebut Paspor Indonesia Lemah, Ini Fakta Kekuatan Paspor RI
paspor indonesia

Isu kekuatan paspor Indonesia kembali menjadi perbincangan setelah viralnya sebuah vlog di media sosial. Konten tersebut memicu perdebatan publik soal citra dan daya saing paspor RI di tingkat global.

rb-1

Kekuatan paspor kerap dikaitkan dengan kemudahan akses perjalanan internasional tanpa visa. Di tengah polemik itu, analis keimigrasian memberikan penjelasan berbasis data dan perspektif kebijakan.

Sebuah vlog yang dibuat Dwi Sasetyaningtyas, alumnus beasiswa bergengsi Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), menjadi viral di media sosial. Ia menjadi sasaran kemarahan publik setelah unggahannya dianggap merendahkan martabat paspor Indonesia.

Baca Juga: Purbaya Geram dengan Dwi Sasetyaningtyas yang Bangga Anaknya Jadi WNA, Menkeu: Jangan Hina Negara!

rb-2

Posisi Paspor Indonesia di Peringkat Global 2026

Dilansir dari Indonesiabaik.id, Kekuatan paspor menjadi salah satu indikator penting yang mencerminkan kemudahan mobilitas warga negara ke berbagai belahan dunia.

Baca Juga: Arya Iwantoro Apes Harus Kembalikan Beasiswa LPDP Imbas Ulah Dwi Sasetyaningtyas, Terancam Blacklist

Semakin kuat sebuah paspor, semakin banyak negara yang bisa dikunjungi tanpa perlu mengurus visa yang rumit.

Berdasarkan Henley Passport Index awal 2026, paspor Indonesia berada di peringkat ke-64 dunia dengan akses bebas visa ke 73 negara dan wilayah tujuan. Posisi ini menempatkan Indonesia di kelompok menengah dalam pemeringkatan global kekuatan paspor.

Kekuatan Paspor Indonesia 2026Kekuatan Paspor Indonesia 2026

Penjelasan Analis Keimigrasian

Menurut Analis Keimigrasian Muda di Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan, Riyan Samutra, mengungkap penjelasannya, seperti dikutip dari laman resmi Kemenimipas. 

Menurut Riyan, di benak banyak warga negara, khususnya mereka yang pernah mengalami rumitnya proses visa ke negara-negara maju.

“Predikat “paspor lemah” kerap terasa nyata. Meski demikian, label tersebut dinilai tidak sepenuhnya tepat jika dilihat dari berbagai aspek strategis,” tulisnya.

Walau begitu, Riyan mengungkap, meski kerap dikritik, paspor Indonesia justru memiliki keunggulan yang tidak dimiliki oleh negara kuat seperti Tiongkok. 

“Kontrol domestik yang ketat, pembatasan kebebasan bergerak, dan ketegangan diplomatik membuat paspor Tiongkok memiliki banyak keterbatasan implisit. Sebaliknya, sebagai negara demokrasi yang terbuka, Indonesia memiliki posisi strategis untuk memperkuat kepercayaan global,” jelasnya.

Ia berpendapat bahwa potensi itu tidak akan sia-sia, asalkan Indonesia mampu menjaga stabilitas, inklusivitas, dan rekam jejak warga negaranya.

lebih lanjut, Riyan mengakui bahwa tantangan terbesarnya tetap terletak pada narasi. 

“Dunia dinilai belum sepenuhnya menangkap semangat perubahan Indonesia, sementara sebagian negara masih terkungkung pada citra masa lalu. Di sinilah pentingnya penguatan narasi kebangsaan melalui kiprah warga negara Indonesia di luar negeri,” jelasnya.

Riyan juga mengakui bahwa paspor disebut sebagai cermin martabat bangsa danmenjadi bukti bagaimana dunia menilai suatu negara, bukan hanya dari kondisi domestik, tetapi juga dari perilaku warganya. 

Karena itu, memperkuat paspor Indonesia bukan hanya persoalan kebijakan teknis, melainkan juga upaya membangun kepercayaan kolektif.

Terkait stigma “paspor lemah” yang kerap terdengar, Riyan juga menyuarakan harapannya.

“Paspor Indonesia dicap lemah? Mungkin. Akan tetapi, Indonesia terus berproses menghadapi persepsi global yang berkembang,” tulisnya. 

Baginya, selama bangsa ini percaya pada kemampuannya sendiri, paspor berlambang Garuda akan terus merepresentasikan tekad kesetaraan dan kepercayaan, bukan sekadar dokumen perjalanan.

Dwi Sasetyaningtyas Dirujak Warganet Karena Sebut Paspor Indonesia Lemah 1Dwi Sasetyaningtyas Dirujak Warganet Karena Sebut Paspor Indonesia Lemah 1

Kronologi Viral dan Reaksi Warganet

Kronologi polemik terkait ujaran viral Dwi Sasetyaningtyas ini bermula pada psotingan yang bersangkutan pada Februari 2026.

Saat itu,Tyas mengunggah momen saat dirinya menerima paket amplop berwarna cokelat dari Home Office Inggris. 

Dalam vlog tersebut, ia tampak emosional saat membuka dokumen kewarganegaraan anak keduanya.

"Ini paket bukan sembarang paket, isinya adalah sebuah dokumen penting yang mengubah nasib dan masa depan anak-anakku," ujar Tyas dalam rekaman tersebut.

Kebahagiaannya memuncak setelah mengetahui sang anak resmi menjadi warga negara Inggris. 

Namun, pernyataannya yang secara terbuka menyebut dirinya mengupayakan status warga negara asing bagi anak-anaknya memicu kritik luas.

"Cukup aku aja yang WNI, anak-anakku jangan. Kita usahakan anak-anak dengan paspor kuat WNA itu," tuturnya dalam video.

Istilah “paspor kuat” dan pernyataan “cukup aku saja yang WNI” kemudian menjadi pemantik kemarahan publik di media sosial, hingga memunculkan perdebatan luas mengenai citra dan kekuatan paspor Indonesia.

Polemik ini bahkan menuai tanggapan dari beberapa publik figur hingga pejabat publik termasuk Menkeu Purbaya dan Wamen Stella Christie.
 

Tag Dwi Sasetyaningtyas paspor indonesia