Baca Buku Broken Strings, Andien Akui Korban Kekerasan, Pernah Hampir Lompat di Jalan Tol
Hebohnya pengakuan Aurelie Moeremans dalam buku 'Broken Strings' ternyata menyentuh hati banyak orang, termasuk Andien Aisyah.
Penyanyi bersuara emas itu secara mengejutkan mengaku memiliki pengalaman serupa sebagai korban kekerasan dalam hubungan.
Baca Juga: Masih Bisa Makan Naspad, Andien Bagikan 6 Menu Diet Sehat Andalan
Relate dengan Kisah Aurelie
Melalui akun X-nya, Andien mengungkapkan bahwa membaca memoir Aurelie mengingatkannya pada luka masa lalu.
"Dulu gue dibuat percaya bahwa orang dari latar belakang keluarga yang 'carut marut' seperti gue, nggak pantes dan nggak seharusnya dapet pasangan yang baik," tulis Andien, Senin (12/1/2026).
Baca Juga: Berparas Cantik, Siapa Sangka Aurelie Moeremans Pernah Jadi Korban Bully, Begini Pengakuannya!
Pengakuan Mengejutkan: Dipukul, Ditendang, hingga Ingin Lompat dari Mobil
Pengakuan Andien semakin dalam saat ia merespons komentar warganet. Ia menceritakan detail kekerasan fisik yang dialaminya.
"Sama bangetttt.. Habis dipukul, ditendang, sampe aku buka pintu di jalan tol," paparnya.
Saat itu, Andien bahkan sempat berpikir untuk meloncat dari mobil yang sedang melaju di jalan tol.
"Aku pikir waktu itu mendingan aku jatuh guling-guling di jalan tol ketimbang aku ikut dia sampai rumahnya dan belum tau nasibku bakalan gimana," kenangnya dengan pedih.
Pertanyaan untuk Para Pelaku dan Harapan untuk Korban
Andien mengaku tak habis pikir dengan pola asuh yang bisa membentuk karakter manipulatif pelaku.
Meski trauma itu nyata, Andien kini menyatakan dirinya bersyukur telah bebas dari hubungan toxic tersebut dan menemukan kebahagiaan.
Ia berharap pengalamannya bisa menjadi cahaya bagi korban lain. "Cinta yang hari ini didapatkannya adalah berkah dari banyak luka yang dulu ia alami," tulisnya, berharap semua korban bisa pulih dan mendapatkan akhir yang baik.
Buku 'Broken Strings' Sebagai Pemicu
Pengakuan Andien ini semakin mengukuhkan bahwa buku 'Broken Strings' karya Aurelie Moeremans bukan sekadar memoar biasa, melainkan sebuah alat yang membuka ruang aman bagi banyak penyintas untuk bersuara dan mulai menyembuhkan luka mereka yang terdalam.