Sejarah dan Kiprah Ponpes Lirboyo, Pondok 115 Tahun Kini Berkonflik dengan Trans7
Setelah menikah dengan Nyai Khodijah binti K.H. Sholeh dari Banjarmlati, Kediri, K.H. Abdul Karim menetap di Desa Lirboyo. Atas dorongan mertuanya, beliau mendirikan pondok sederhana untuk mengajarkan agama Islam kepada masyarakat sekitar.
Pondok Pesantren Lirboyo didirikan oleh K.H. Abdul Karim.
Santri pertama Pondok Pesantren Lirboyo berasal dari berbagai daerah, termasuk Madiun, Magelang, dan Kediri. Seiring berjalannya waktu, jumlah santri terus meningkat seiring reputasi pesantren yang semakin dikenal luas.
Pada tahun 1913, K.H. Abdul Karim membangun Masjid Lawang Songo, yang menjadi pusat kegiatan ibadah dan pembelajaran para santri hingga kini.
Sebagai pesantren salaf, Lirboyo menekankan pembelajaran kitab kuning atau kitab salaf, yang menjadi fondasi utama keilmuan Islam klasik. Sistem pengajarannya menitikberatkan pada pendalaman ilmu fiqih, tafsir, hadis, dan akhlak, disertai disiplin tinggi dalam kehidupan sehari-hari.
Selain bidang pendidikan, Lirboyo juga berperan aktif dalam sejarah perjuangan bangsa. Banyak santri dan kiai Lirboyo yang turut berjuang dalam kemerdekaan Indonesia, termasuk dalam Pertempuran 10 November di Surabaya.
Ponpes Lirboyo Masa Kini
Kini, kepemimpinan Pondok Pesantren Lirboyo diteruskan oleh K.H. M. Anwar Manshur, cucu dari pendiri pesantren. Di bawah kepemimpinannya, Lirboyo terus berkembang tanpa meninggalkan nilai-nilai salaf.
Pesantren ini juga memperluas bidang dakwah dan sosial, sekaligus tetap menjaga hubungan erat dengan organisasi Nahdlatul Ulama (NU). Keterikatan Lirboyo dengan NU bukan hanya dalam ideologi, tetapi juga dalam kontribusi nyata terhadap pengembangan pendidikan Islam Ahlussunnah wal Jamaah.
Banyak tokoh besar NU yang merupakan alumni pesantren ini, menjadikannya salah satu pilar penting dalam jaringan pendidikan tradisional di Indonesia. Hingga kini, Pondok Pesantren Lirboyo tetap berdiri kokoh sebagai pusat studi Islam klasik yang berakar kuat pada tradisi salaf.
Di tengah derasnya arus modernisasi, pesantren ini tetap menjaga jati diri sebagai lembaga yang menanamkan nilai keilmuan, keikhlasan, dan pengabdian. Kontroversi yang sempat mencuat tak mengubah citra Lirboyo sebagai salah satu pesantren legendaris dan berpengaruh di Indonesia.