Momen Karina Ranau Makan Sahur di Area Pemakaman Epy Kusnandar Jadi Sorotan
Karina Ranau harus menjalani bulan suci Ramadhan tahun ini tanpa kehadiran sang suami tercinta, Epy Kusnandar, yang meninggal dunia pada 3 Desember 2025 di usia 61 tahun.
Kehilangan yang baru terjadi dua bulan lalu masih meninggalkan duka mendalam bagi Karina, terlihat dari cara ia menjalani sahur pertama di Ramadhan ini.
Karina memilih melakukan sahur di TPU Jeruk Purut, tempat peristirahatan terakhir suaminya. Momen tersebut ia bagikan melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, menuliskan haru,
Baca Juga: Viral Video Lama Ressa Rizky Rossano di Pemakaman Emilia Contessa, Sikapnya Jadi Sorotan
“Assalamualaikum Papi. Sahur Pih. Bahagianya malam ini bisa sahur bareng Papi.”
Dalam sahur tersebut, Karina tidak sendiri. Ia ditemani delapan karyawan warungnya serta putra mereka, Quentin Stanislavski Kusnandar. Tak lupa, foto almarhum Epy Kusnandar diletakkan di samping Karina, seolah menemani ibu dan anak itu selama sahur.
Kebersamaan Epy Kusnandar Dan Karina Ranau Menikmati Hidangan Di Rumah Makan Mereka Di Bilangan Jakarta Selatan Instagram Karinaranau9
Baca Juga: Dicolek Oknum Ojol, Karina Ranau Istri Epy Kusnandar Ngamuk Usai Dituding Sombong
Unggahan ini memicu beragam komentar dari warganet. Beberapa memberikan kritik, mengingatkan bahwa tindakan semacam ini sebaiknya tidak ditiru.
“Jangan di Tiru ya gak baik,” tulis salah satu netizen.
Ada pula yang menyarankan agar Karina cukup mendoakan sang suami, bukan melakukan ritual seperti itu, “Ya Allah,,kak,,GK gini juga kalik,,saran sih kak,,cukup doakan beliau saja kak,,insyaallah damai dan tenang.”
Namun, tak sedikit yang memahami kerinduan Karina terhadap almarhum suami. Seorang netizen menulis, “Gak apa selagi tidak menyakiti orang lain, mungkin mbaknya masih rindu almarhum suaminya Al-Fatihah.”
Momen Karina Ranau Sahur Di Pemakaman Sang Suami Epy Kusnandar Instagram
Di sisi lain, ada juga yang mengingatkan agar ia lebih fokus pada kegiatan positif dan pengajian, “Kudu ada ustad nasihatin kaya gini ga dibenarkan juga maaf teh, banyakin ngaji, sibukkan dengan aktivitas positif pengajian, itu jatuhnya meratapi dan agama melarang.”
Momen sahur Karina Ranau di pemakaman ini menjadi bukti nyata bagaimana rasa kehilangan dan kerinduan bisa tetap terasa, bahkan saat harus menjalani kegiatan religius seperti Ramadhan, dan sekaligus menimbulkan perdebatan di kalangan publik mengenai cara mengekspresikan duka.