Sinopsis Film Pelangi di Mars yang Suguhkan Visual Megah, Siap Tayang Lebaran 2026
Industri perfilman Tanah Air siap mengguncang genre fiksi ilmiah lewat karya terbaru bertajuk Pelangi di Mars. Film sci-fi ambisius ini dijadwalkan menyapa penonton di momen Lebaran, tepatnya mulai 18 Maret 2026.
Disutradarai oleh sutradara visioner Upie Guava, film ini menampilkan akting memukau Lutesha Sadhewa sebagai Pratiwi. Pratiwi dikisahkan sebagai seorang peneliti tangguh yang harus bertahan hidup sendirian setelah tertinggal dalam misi di Planet Merah.
Alur cerita semakin menarik dengan kehadiran Pelangi, anak Pratiwi yang mencetak sejarah sebagai manusia pertama yang lahir di Mars pada tahun 2090. Petualangan dimulai saat Pelangi berusaha mencari jalan pulang ke Bumi, ditemani oleh robot setia bernama Batik.
Baca Juga: Sangar! Film 'Pelangi Di Mars' Tampilkan Robot-robot Canggih Dibintangi Rio Dewanto dan Lutesha
Bagi Upie Guava, Pelangi di Mars adalah manifestasi dari mimpi lamanya yang akhirnya menjadi kenyataan. Meski begitu, pria yang dikenal lewat tangan dinginnya di video musik ini mengaku perasaannya campur aduk saat film ini siap dirilis.
"Ada unsur lega, tapi juga seperti kehilangan sesuatu. Rasanya campur aduk, jujur saja," ungkap Upie Guava dalam konferensi pers di Kuningan, Jakarta Selatan, Sabtu (14/3/2026).
Baca Juga: Rio Dewanto Dicecar Pertanyaan Kritis Sang Anak Usai Main Film Pelangi di Mars
Lebih dari sekadar hiburan, Upie mengusung misi besar lewat film ini. Ia ingin memantik kembali imajinasi anak-anak Indonesia agar berani bermimpi menjelajahi ilmu pengetahuan dan jagat raya.
"Tujuan awalnya pengin mengembalikan cita-cita anak Indonesia menjadi astronot, scientist, arkeolog, hingga penjelajah dunia," tambahnya.
Secara teknis, Pelangi di Mars patut diacungi jempol. Mengusung konsep live-action dengan kualitas visual mumpuni, setiap detail lingkungan Mars digambarkan sangat nyata dan memanjakan mata.
Keunikan lainnya terletak pada karakter robot yang muncul, seperti Kimchi, Yoman, Petya, hingga Batik yang punya sifat overprotective layaknya manusia.
"Di lingkungan kita itu pasti ada yang (karakternya) seperti Kimchi, atau Batik yang overprotective, ada yang seperti Yoman dan Petya," pungkas Upie.