S1 Tak Jamin Kerja? Wina Hananto Ungkap Jutaan Sarjana Jadi Pengangguran di 2026
Pakar keuangan Wina Hananto mengungkapkan realitas pahit dunia kerja tahun 2026 dengan menyebutkan bahwa terdapat jutaan lulusan strata satu (S1) yang saat ini berstatus pengangguran.
Informasi tersebut disampaikan secara terbuka dalam perbincangan bersama Raditya Dika di kanal YouTube yang diunggah pada 10 Februari 2026.
Wina menyoroti fenomena sulitnya mencari pekerjaan meski seseorang sudah menyandang gelar sarjana. Menurutnya, ijazah saat ini tidak lagi menjadi jaminan otomatis bagi seseorang untuk bisa langsung terserap ke dalam dunia profesional karena ketatnya persaingan industri.
"Ada jutaan lulusan S1 yang sekarang lagi unemployed," ujar Wina.
Wina menjelaskan bahwa situasi ini terjadi secara meluas dan tidak memandang latar belakang pendidikan, termasuk bagi mereka yang menempuh studi di institusi internasional. Ia bahkan membagikan pengalaman pribadi mengenai anggota keluarganya yang masuk dalam statistik tersebut.
"Termasuk anak gue, sudah berapa bulan dan nyari kerjanya susah banget," ungkap Wina.
Berdasarkan data dan pengamatan yang ia miliki, durasi mencari pekerjaan bagi lulusan baru kini menjadi jauh lebih panjang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Wina menyebutkan bahwa proses menunggu kontrak kerja pertama bisa memakan waktu berbulan-bulan hingga tahunan.
"Angkatan anak gue itu ada yang sudah 2 tahun belum dapat kerja, ada yang sudah 10 bulan baru dapat kerja," jelas Wina.
Ilustrasi Lulusan Yang Kesulitan Mencari Kerja [Sumber: Indopop]
Dalam diskusi tersebut, ia juga membandingkan peluang lulusan dari berbagai kampus dalam negeri. Wina mencatat bahwa lulusan dari universitas ternama mungkin memiliki keuntungan lebih dalam hal akses informasi dan jaringan profesional.
"Mungkin anak UI mungkin koneksinya lebih bagus, anak ITB mungkin koneksinya lebih bagus," kata Wina.
Wina mengingatkan bahwa bagi mereka yang bukan berasal dari universitas top, tantangannya akan jauh lebih besar.
"Tapi tidak semua lulusan dalam negeri itu anak UI, UGM, dan ITB. Mereka koneksinya akan beda," tambahnya.
Kondisi pasar kerja yang sulit ini kemudian memicu munculnya fenomena yang disebut Wina sebagai "job hugging". Strategi ini mengharuskan para pekerja untuk lebih menghargai dan mempertahankan posisi pekerjaan yang mereka miliki saat ini.
"Perhatikan pekerjaan lu kayak apa, skill lu yang bisa membuat lu berhasil di pekerjaan itu seperti apa," tutur Wina.
Ilustrasi Peningkatan Keterampilan [Sumber: Indopop]
Wina juga mengungkapkan adanya ketidaksesuaian (mismatch) antara kebutuhan perusahaan dengan kualitas pelamar. Banyak praktisi sumber daya manusia (HR) yang mengeluhkan sulitnya menemukan kandidat yang benar-benar siap bekerja secara mental dan kemampuan.
"Gila, gua susah banget nyari orang. Sementara yang lulus (bilang) gila, gua susah banget cari kerja," kata Wina.
Faktor sikap (attitude) dan ekspektasi kerja juga disebut menjadi penghambat dalam proses rekrutmen. Wina melihat adanya perbedaan cara kerja dan pandangan antara generasi senior yang menjadi pemberi kerja dengan generasi muda yang baru masuk ke dunia kerja.
Wina Hananto sendiri adalah seorang perencana keuangan senior dan pendiri QM Financial yang telah lama berkecimpung dalam edukasi literasi keuangan di Indonesia. Latar belakangnya sebagai praktisi keuangan membuat informasi yang disampaikannya menjadi rujukan penting bagi banyak pihak.