Ki Anom Suroto Wafat, Ini Kisah 'Dalang Miliarder' dan 4 Lakon Ikoniknya
Kabar duka yang mendalam datang dari panggung seni dan budaya Tanah Air. Maestro dalang wayang kulit legendaris, Ki Anom Suroto, dilaporkan telah tutup usia pada Kamis 23 Oktober 2025.
Kabar berpulangnya sang maestro sontak mengejutkan dan meninggalkan duka mendalam bagi jutaan penggemar wayang kulit di seluruh Indonesia, serta para pedalangan lain.
Kepergian Ki Anom Suroto menjadi kehilangan besar. Ia adalah salah satu sosok utama yang menjaga marwah dan popularitas wayang kulit, membawanya melintasi berbagai zaman.
Baca Juga: Pesan Terakhir Ki Anom Suroto Sebelum Meninggal untuk Kedua Putranya
Salah satu hal yang paling lekat dengan sosoknya, selain kepiawaiannya mendalang, adalah julukan mentereng yang disandangnya: 'Sang Dalang Miliarder'.
Gelar 'Miliarder' itu santer disematkan padanya karena Ki Anom Suroto dikenal sebagai salah satu dalang pertama yang menetapkan standar tarif profesional yang sangat tinggi.
Di era keemasannya, untuk 'nanggap' atau mengundang Ki Anom Suroto pentas semalam suntuk, konon honor yang harus disiapkan bisa mencapai angka ratusan juta rupiah. Sebuah angka yang fantastis untuk pentas seni tradisi kala itu.
Langkah beraninya ini tak pelak turut mengangkat derajat dan kesejahteraan profesi dalang secara ekonomi.
Tentu saja, popularitas dan tarif tinggi itu sebanding dengan kualitas yang ia tawarkan di atas panggung. Ki Anom Suroto dikenal memiliki paket komplet sebagai seorang dalang.
Ki Anom Suroto [Instagram]
Gayanya merupakan perpaduan harmonis antara pakem Surakarta (Solo) dan sentuhan dinamis gaya Yogyakarta.
Kekuatan utamanya terletak pada suluk (nyanyian dalang) yang memiliki suara emas, jernih, dan merdu. Selain itu, catur (narasi dan dialog) yang ia bawakan selalu runut, jelas, dan sarat akan pesan mendalam.
Dari ratusan pentas dan rekaman kaset yang telah ia hasilkan, ada beberapa lakon (cerita) yang dianggap paling ikonik dan lekat dengan sosok almarhum.
Pertama, lakon "Bima Suci". Kisah perjalanan spiritual Bima mencari air kehidupan ini selalu berhasil dibawakan Ki Anom dengan penuh penghayatan. Banyak penggemar merasa terhanyut secara spiritual saat menyaksikan lakon ini.
Kedua, lakon "Parto Kromo" atau yang juga dikenal sebagai "Kresna Duta". Ki Anom Suroto sangat piawai menggambarkan ketegangan diplomasi Prabu Kresna sebagai duta Pandawa sebelum meletusnya perang Bharatayudha.
Ketiga, lakon "Gatotkaca Kridha". Dalam lakon yang mengisahkan kiprah Gatotkaca ini, penonton disuguhi atraksi sabetan (gerakan wayang) yang lincah, cekatan, dan memukau, menunjukkan kemampuannya dalam adegan pertempuran.
Terakhir, lakon "Semar Mbangun Kahyangan". Lakon ini seringkali menjadi media Ki Anom Suroto untuk menyisipkan kritik sosial dan petuah bijak yang relevan dengan kondisi zaman, dibalut dalam humor segar khas Punakawan.
Ki Anom Suroto [Instagram]
Kiprah Ki Anom Suroto di dunia pedalangan memang tak perlu diragukan. Lahir di Klaten, Jawa Tengah, pada tahun 1948, ia disebut sudah mulai mendalang sejak usia 12 tahun, mewarisi darah seni dari ayahnya.
Ia resmi menjadi dalang profesional sejak akhir era 60-an dan popularitasnya terus menanjak. Tak hanya 'raja' di panggung domestik.
Ia juga tercatat sukses membawa wayang kulit pentas di berbagai negara, termasuk Jepang, Amerika Serikat, Australia, dan sejumlah negara Eropa.