Fanny Ghassani Cerita Proses Healing dari Trauma Keluarga, Kini Lebih Ikhlas Jalani Hidup
Menghadapi trauma masa lalu bukanlah perkara mudah. Namun, Fanny Ghassani membuktikan bahwa kedamaian batin bisa dicapai melalui proses panjang.
Kini ia bahkan bisa tersenyum saat membicarakan luka lama dari perceraian orang tuanya yang pernah membekas dalam hidupnya.
Bagi Fanny, kunci utama dari proses pemulihan adalah keberanian untuk kembali menghadapi rasa sakit tersebut secara jujur. Ia percaya bahwa menemui luka masa lalu bukanlah sebuah kesalahan, melainkan pintu menuju pemulihan yang sejati.
Baca Juga: Fanny Ghassani Ungkap Rahasia Tubuh Ramping dan Pola Hidup Sehatnya
“Menemui luka masa lalu itu bukan suatu kesalahan. Justru dengan bertemu luka itu, kita bisa berdamai dengannya. Prosesnya panjang, sekarang aku sudah 35 tahun. Sudah puluhan tahun aku lalui sampai akhirnya bisa menerima bahwa setiap rumah tangga punya cerita yang berbeda-beda,” ungkapnya.
Fanny juga mengungkapkan rasa syukurnya atas kegigihan sang ibunda yang membesarkannya sebagai orang tua tunggal. Ia melihat perjuangan sang ibu sebagai alasan kuat untuk bangkit dan melepaskan trauma yang selama ini ia rasakan.
Baca Juga: Keturunan Arab, Fanny Ghassani Dikritik Keluarga Karena Penampilan Seksi
Baginya, perjuangan sang ibu menjadi pengingat bahwa kehidupan tetap harus dijalani dengan penuh kekuatan dan harapan. Hal itulah yang membuatnya terus berusaha memperbaiki diri dan melangkah maju.
Fanny Ghassani sempat trauma dengan perceraian kedua orang tuanya. [Indopop/Raka]
Untuk mencapai titik ikhlas, aktris ini mengaku rutin meluangkan waktu khusus untuk dirinya sendiri. Kebiasaan merenung dan melakukan refleksi diri membantunya memahami perasaan yang belum sepenuhnya terselesaikan.
“Aku suka punya waktu sendiri untuk merefleksikan apa yang terjadi dalam hidupku. Apakah ada keputusan yang salah aku ambil? Apakah ada perasaan yang perlu aku selesaikan? Atau mungkin ada hal yang belum aku ikhlaskan,” jelasnya.
Menurut Fanny, keikhlasan menjadi kunci penting dalam menghadapi berbagai dinamika kehidupan. Ia menyadari bahwa manusia tidak bisa luput dari kesalahan, baik yang dilakukan sendiri maupun oleh orang lain.
Ia juga percaya bahwa setiap emosi dalam hidup bersifat sementara. Kesedihan, kebahagiaan, hingga haru akan selalu datang dan pergi seiring waktu.
“Yang paling penting dalam proses itu adalah ikhlas. Kita nggak bisa luput dari salah, orang lain juga pasti pernah melakukan kesalahan kepada kita," kata Fanny.
"Jadi caranya adalah dengan banyak waktu bersama diri sendiri, merefleksikan semuanya, lalu mengikhlaskan. Karena semua perasaan itu nggak ada yang abadi, semuanya pasti berlalu,” tutupnya.