Cellos Buru Pembajak Byon Combat, Kerugian Ditaksir Tembus Puluhan Miliar
Merasa dirugikan, Yoshua Marcellos alias Cellos memilih mengambil langkah tegas dengan melaporkan dugaan pembajakan event miliknya, Byon Combat. Ajang olahraga tarung yang memadukan boxing dan kickboxing itu diduga disiarkan ulang secara ilegal oleh pihak tak bertanggung jawab.
Cellos pun mendatangi Polda Metro Jaya pada Rabu (25/2/2026) untuk menindaklanjuti kasus tersebut. Ia menegaskan langkah hukum ini diambil demi melindungi industri dan para penonton yang sudah membeli akses resmi.
Modus Live Ilegal di TikTok
Baca Juga: Pertemuan Mengharukan Paris Pernandes dan Cellos Setelah Perang Dingin
Kasus ini bermula saat gelaran Byon Combat Showbiz 5 pada Juni 2025. Seorang pria asal Makassar berinisial BM diduga menyiarkan ulang acara tersebut secara ilegal melalui siaran langsung di TikTok.
Dengan jumlah pengikut mencapai 500 ribu, BM diduga memanfaatkan momentum tersebut untuk meraup keuntungan pribadi lewat fitur gift saat live.
Baca Juga: Ga Main-Main, Cellos Buru Pembajak Konten Byon Combat hingga ke Makassar
"Dia jadi beli pay-per-view-nya, enggak tahu iseng atau motifnya apa ya, cuma dia share gitu sih, lewat gift-gift," ujar Cellos.
Akibat pihak yang bertanggung jawab tersebut, Cellos mengaku mengalami kerugian materiil yang diperkirakan mencapai puluhan miliar rupiah.
"Kalau misalkan ditanya mau dihitung kerugian materiil itu sudah puluhan miliar ya," ucap pria yang baru dikaruniai anak pertama itu.
Terancam Denda Maksimal Rp1 Miliar
Cellos ingin berantas pembajakan event miliknya, Beyond Combat. [Indopop/Raka]Meski sempat mengelak, BM akhirnya tak bisa menghindar setelah bukti kuat diserahkan ke pihak kepolisian. Status perkara pun telah naik ke tahap penyidikan (sidik).
Di tengah proses hukum berjalan, pihak terlapor dikabarkan mengajukan permohonan damai dan bersedia membayar ganti rugi. Cellos menyebut besaran denda mengacu pada ketentuan maksimal dalam undang-undang yang berlaku.
"Kalau secara hukum itu maksimal 1 miliar. Kurang lebih itu dia bayar segituan juga. Jadi semoga ini bukan cuma jadi efek jera tapi ini sebagai contoh. Karena pembajakan itu sebenarnya yang bunuh industri benar-benar gitu," ungkap Cellos.
Penyelidikan pun masih terus dikembangkan untuk memastikan apakah ada pihak lain yang terlibat. Cellos berharap masyarakat semakin bijak menggunakan media sosial dan tidak menyebarkan konten hasil pembajakan, karena konsekuensi hukumnya tidak main-main.