Profil Lengkap Noe Letto, Anak Cak Nun yang Dilantik Jadi Tenaga Ahli Dewan Pertahanan Nasional
Sabrang Mowo Damar Panuluh, atau yang lebih dikenal dengan nama Noe Letto, baru saja dilantik menjadi Tenaga Ahli Dewan Pertahanan Nasional.
Anak dari Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun itu dilantik langsung oleh Menteri Pertahanan (Menhan) Sjafrie Sjamsoeddin, Kamis (15/1/2026).
Tugas Noe nantinya adalah mengisi kedeputian bidang Geoekonomi, Geopolitik dan Geostrategi.
Baca Juga: Usai Dibantah Kemenhan, Ayu Aulia Klarifikasi Dirinya adalah Staf Kreatif Ormas Bela Negara
Profil Lengkap
Sabrang Mowo Damar Panuluh yang juga dikenal sebagai Noe, lahir pada 10 Juni 1979. Dia adalah vokalis dan keyboardis band Letto (posisi keyboardis hingga 2014 sebelum masuknya Widi).
Baca Juga: Ayu Aulia Bingung Tak Juga Dilantik oleh Ormas Bela Negara: Cuci Tangannya Luar Biasa!
Noe merupakan anak pertama budayawan, Emha Ainun Nadjib dari pernikahan pertamanya dengan Neneng Suryaningsih, dan anak sambung bintang sinetron sekaligus penyanyi, Novia Kolopaking.
Sayangnya, saat dirinya menginjak umur 6 tahun, orangtuanya memutuskan untuk bercerai.
Noe menghabiskan masa SD di SD 1 Yosomulyo, Lampung, kemudian melanjutkan ke SMP Xaverius Metro, Lampung.
Noe Saat Dilantik Jadi Tenaga Ahli Pertahanan Nasional [Instagram]Saat Noe masih SMP, pamannya memberikan kaset bekas kumpulan lagu-lagu Queen, dan setelah mendengarkan berulang kali, akhirnya dia mempunyai pikiran bagaimana membuat musik yang bisa menggerakkan rasa dan menggerakkan perasaan orang lain.
Mulailah Noe bersentuhan dengan keyboard alat musik yang pertama ia sentuh.
Setelah lulus SMP, Noe kembali ke Yogyakarta dan meneruskan sekolah di SMU 7 Yogyakarta. Di sana ia bergabung dengan ayahnya dan bergaul bersama komunitas ayahnya.
SMU 7 Yogyakarta-lah yang mempertemukan Noe dengan Ari, Dedy dan Patub. Pada waktu itu mereka belum membentuk band.
Pada tahun 1997, Noe melanjutkan kuliah di perguruan tinggi prestisius Universitas Alberta, Kanada. Ia mengambil dua jurusan sekaligus, yaitu matematika dan fisika.
Di Kanada, krisis moneter memaksa Noe hidup berjuang mandiri dengan menjalani pekerjaan paruh-waktu, agar dapat memiliki uang yang cukup untuk kebutuhan sehari-hari demi menyelesaikan pendidikan.
Pada tahun 2003, Noe lulus dari Universitas Alberta dengan gelar Bachelor of Science dalam dua bidang, yaitu fisika dan matematika.
Setelah lulus dan kembali ke Indonesia, Noe aktif bermusik di studio Kiai Kanjeng yang dipimpin oleh Novi Budianto, rekan dan sahabat dari ayahnya, Cak Nun.
Dari studio Kiai Kanjeng, Noe bisa mengerti bagaimana mixing, mastering, memproduksi dan menulis musik.
Noe mulai menulis lirik lagu, yang akhirnya banyak tertuang dalam album perdana Letto, Truth, Cry and Lie.
Pada tahun 2004, Musica tertarik pada lagu yang ditawarkan Noe dan kawan-kawannya. Barulah mereka membentuk band yang diberi nama Letto.
Pada tahun 2005, Letto mengeluarkan debut album berjudul Truth, Cry and Lie.
Keseriusan bermusik membuahkan double platinum bagi Letto. Kesuksesan itu memacu Letto untuk membuat album kedua, "Don't Make Me Sad" (2007).
Foto Noe Letto [Instagram]Sejak 10 Juni 2008, Noe mendirikan rumah produksi Pic[k]Lock bersama Dewi Umaya Rachman.
Film perdananya Minggu Pagi di Victoria Park, dirilis 10 Juni 2010. Kemudian film kedua, RAYYA, Cahaya di Atas Cahaya ditulis oleh bapaknya sendiri, Emha Ainun Nadjib dan Viva Westi.
Pada tahun 2015, Pic[k]Lock Productions bekerja sama dengan Yayasan Keluarga Besar H.O.S Tjokroaminoto dan MSH Films meluncurkan Guru Bangsa Tjokroaminoto yang disutradarai oleh Garin Nugroho.