Kronologi Erika Oktaviani Masuk RSJ Soeharto Heerjan, Diduga Jadi Korban Skenario Suami
Erika Oktaviani secara mengejutkan mengunggah kronologi mengenai konflik rumah tangga dan tindakan paksaan yang dialaminya beberapa waktu lalu. Ia mengaku dimasukkan ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Soeharto Heerjan secara tiba-tiba oleh suaminya sendiri, Anthony Hamonangan Million Sihombing. Peristiwa ini bermula dari perselisihan internal yang memanas hingga berujung pada tindakan medis sepihak.
Permasalahan ini berawal pada tanggal 27 Januari 2026 ketika Erika terlibat keributan besar dengan pihak keluarga dan kantornya. Konflik tersebut dipicu oleh persoalan proyek Makan Bergizi Gratis (MBG) serta masalah invoice yang macet. Erika mengaku dalam kondisi tertekan dan sangat berharap mendapatkan dukungan penuh serta pembelaan dari sang suami di masa sulit tersebut.
Namun, harapan Erika tidak terpenuhi karena sang suami justru tidak mendampinginya sejak keributan terjadi hingga tanggal 31 Januari 2026. Berdasarkan keterangannya, Anthony diketahui sedang melakukan staycation di Bandung bersama keluarga besarnya saat Erika menghadapi masalah. Ketidakhadiran suami di saat krusial ini menjadi awal dari rangkaian kejadian pahit yang dialami oleh Erika.
Puncak kejadian terjadi pada 31 Januari 2026 malam, ketika Anthony menjemput Erika dengan alasan ingin membawanya ke apartemen untuk bertemu anak mereka, Monika. Namun, di tengah perjalanan, Erika merasa curiga karena rute kendaraan tidak menuju Jakarta Selatan melainkan ke arah Jakarta Barat. Tanpa alasan yang jelas, ia justru dibawa paksa masuk ke RSJ Soeharto Heerjan.
Erika harus menjalani perawatan di RSJ Soeharto Heerjan hingga tanggal 6 Februari 2026 dalam kondisi yang menurutnya sangat menderita. Selama di sana, ia mengaku merasa terasing dan tidak berdaya karena hak-haknya dibatasi oleh keputusan sepihak sang suami. Ia menyatakan bahwa Anthony adalah sosok utama yang bertanggung jawab atas penempatannya di fasilitas kesehatan jiwa tersebut.
Pada tanggal 5 Februari 2026, Anthony datang menjenguk dan menginap untuk menemani Erika yang saat itu merasa senang karena merasa akan segera bebas. "Saya senang ditemani semalaman, dia menginap sambil saya peluk akhirnya saya ada pendamping, saya seneng akan keluar dari RSJ 'Rumah Sakit Jiwa' hilang penderitaan saya," tulis Erika dalam unggahan media sosial pribadinya.
Setelah keluar dari RSJ pada 6 Februari 2026, Erika dijemput oleh Anthony dan seorang rekan bernama Pak Ng Chin Hiap. Mereka sempat makan bersama sebelum Erika dibawa kembali ke apartemen, namun ternyata ia ditempatkan di unit yang berbeda. Hal ini mengakibatkan Erika harus terpisah dari anaknya, sebuah situasi yang menambah beban mental dan kesedihan mendalam baginya.
Unggahan Erika Oktaviani Menceritakan Kronologi Singkatnya [Sumber: Instagram]
Erika mengaku mengalami tekanan psikologis berupa upaya "cuci otak" di mana ia dipaksa memilih antara keluarga ibunya atau suaminya sendiri. Ia juga diminta untuk menjauhi semua teman-temannya, yang membuatnya merasa terisolasi secara sosial. Situasi ini membuatnya ragu terhadap ketulusan suaminya dan keluarga besar Anthony dalam menyelesaikan konflik yang tengah terjadi.
Kecurigaan Erika semakin kuat ketika ia berhasil melihat isi ponsel suaminya secara langsung beberapa hari yang lalu untuk mencari kebenaran. Ia mengklaim telah mengumpulkan bukti-bukti yang menunjukkan bahwa suami dan keluarga besarnya adalah dalang di balik semua kejadian ini. Temuan tersebut membuatnya merasa dikhianati oleh orang-orang yang seharusnya melindunginya.
Selain masalah penempatan di RSJ, Erika mengungkapkan adanya kejanggalan pada dokumen rekam medis yang dikirimkan oleh Anthony kepadanya. Ia menemukan bahwa tidak ada tanda tangan dari dokter terkait dalam dokumen tersebut, yang menurutnya sangat aneh secara prosedural. Hal inilah yang kemudian memicu keberanian Erika untuk mulai angkat bicara dan menuntut keadilan.
Unggahan Erika Oktaviani Masuk Rsj Soeharto Heerjan [Sumber: Instagram]
Saat ini, Erika Oktaviani tengah menghadapi proses perceraian yang menurutnya sengaja dibuat lama dan sangat memberatkan posisinya sebagai istri. Ia mengaku dipaksa untuk menandatangani berbagai poin kesepakatan yang dianggap merugikan dirinya secara hukum maupun personal. Tekanan-tekanan tersebut dirasakan sangat masif di tengah upaya dirinya mencari jalan keluar hukum.
Hingga saat ini, Erika menyatakan belum ada permintaan maaf yang datang dari pihak suaminya, Anthony Hamonangan Million Sihombing, maupun keluarga besarnya. Ia merasa hak-haknya sebagai manusia dan seorang ibu telah dirampas melalui skenario yang sistematis. Kekecewaannya memuncak karena merasa martabatnya dijatuhkan melalui label gangguan jiwa yang disematkan secara paksa.
Dalam pernyataannya, Erika menegaskan bahwa tujuan utamanya bersuara adalah untuk menuntut keadilan atas tindakan semena-mena yang ia terima selama ini. Ia ingin publik mengetahui bahwa status keluar-masuknya dari RSJ sepenuhnya berada di bawah kendali tanda tangan suaminya. Erika merasa dirinya telah menjadi korban manipulasi situasi demi kepentingan pihak-pihak tertentu.